Mesin Waktu

KLPO News – Dua bulan yang lalu Niskala berumur 17 tahun. Saat ini Niskala sudah duduk di bangku SMA.

Bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Bukannya istirahat untuk membeli makanan atau minuman di kantin, Niskala malah memilih pergi ke rooftop sekolah.

Niskala berdiri di rooftop menikmati udara sejuk. Angin yang berhembus menerpa wajahnya dan membuat rambut panjangnya beterbangan. Niskala mengangkat tangannya kesamping sembari menutup mata.

Tanpa Niskala ketahui, ternyata ada seseorang yang mengamatinya dari belakang. Orang itu mengamati Niskala dari tempat duduknya sambil mengunyah permen karet. Posisi Niskala saat ini membelakangi seseorang itu.

Saat akan berbalik badan untuk menengah ke rooftop, kaki Niskala terpeleset pinggiran rooftop. Membuat Niskala kehilangan keseimbangan. Niskala pasrah jika harus jatuh ke bawah, ia menutup matanya.

Brukkk! sudah jatuh ke bawah, tapi Niskala tidak merasakan sakit sedikit pun. Niskala membuka matanya, yang ia lihat saat ini adalah wajah seseorang. Niskala kaget, ia ingin berteriak. Tetapi kalah cepat dengan seseorang itu yang membungkam mulut Niskala dengan tangannya.

Niskala membulatkan matanya, ia meminta sesorang itu untuk melepaskan bungkamannya. Orang itu tetap diam, membuat Niskala menggeram. Niskala menggigit telapak tangan orang itu. Membuatnya meringis kesakitan, lalu melepaskannya.

Niskala bernafas lega, lalu segera berdiri. Bukannya menolong atau meminta maaf, Niskala malah menginjak kaki orang itu. Orang itu menggeram sakit, lalu menyusul Niskala berdiri.

Dirinya protes, kenapa Niskala tidak berterima kasih kepada dirinya. Niskala malah menggigit dan menginjak kakinya. Niskala menjawab, ia tidak meminta pertolongan pada orang itu.

Lalu, orang itu membalas jawaban sinis Niskala. Jika tidak ada dirinya, mungkin saja Niskala saat ini sudah jatuh ke bawah dan di bawa kerumah sakit untuk di jahit kepalanya.

Niskala tidak terima akan pernyataan orang itu. Niskala bilang, lebih baik begitu dari pada dirinya harus di tolong oleh orang itu. Seseorang itu emosi mendengar jawaban Niskala, tangan nya terangkat seakan akan menampar Niskala.

Melihat orang itu akan melayangkan tangannya, Niskala menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tetapi, Niskala tidak merasakan apa-apa.

Niskala membuka matanya melihat tangan orang itu berhenti di udara. Niskala juga melihat tatapan orang itu juga kosong. Orang itu menurunkan tangannya perlahan. Ia menarik nafas panjang, lalu menatap Niskala dengan tatapan yang sulit diartikan.

Saat akan berbicara pada Niskala, bel berbunyi menandakan waktu istirahat sudah selesai. Orang itu kembali menatap Niskala sekilas.

Lalu, pergi melewati Niskala begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Orang itu keluar melewati pintu lalu kembali menutup pintu dengan kencang.

Niskala terdiam melihat orang itu pergi begitu saja melewatinya. Niskala menatap ke depan dengan tatapan kosong. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, Niskala terkejut mendengar teriakan seseorang memanggil namanya.

Aluna, teman sebangku Niskala. Lalu, Niskala menoleh ke belakang melihat Aluna seperti orang kelelahan. Nafasnya pun berhembus cepat.

Aluna memberitahu Niskala bahwa guru mata pelajaran sudah masuk dan meminta Aluna untuk memanggil teman sebangkunya. Niskala mengangguk lalu berbalik badan mengikuti Aluna menuju kelas.

Sesudah sampai di kelas, Aluna langsung duduk di kursinya. Tetapi berbeda dengan Niskala, ia malah disuruh maju ke depan untuk di beri peringatan. Ketika bel sudah berbunyi segeralah masuk ke dalam kelas, agar tidak merepoti teman-temannya.

Mendengar peringatan guru, teman-teman sekelas Niskala menyorakinya. Niskala menoleh ke pada teman-temannya. Guru meminta murid kelasnya untuk diam.

Niskala kembali menoleh ke gurunya lalu mengangguk. Menandakan bahwa Niskala paham dengan yang gurunya ucapkan. Gurunya tersenyum maklum.

Lalu, menyuruh Niskala untuk duduk ke bangkunya. Setelah itu, guru melanjutkan materi pelajaran tersebut. Bel kembali berbunyi, bertanda bahwa pelajaran telah berakhir. Murid-murid serta para guru di persilahkan untuk pulang.

Murid-murid mendengar bel bunyi berteriak senang. Karena akan kembali menuju tempat ternyaman mereka, yaitu tempat tidur (sama kok aku juga gitu, hehe).

Setelah guru berpamitan, mereka semua merapikan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Mereka menggendong tasnya di bahu, membawanya menuju ke luar kelas untuk pulang.

Begitu juga dengan Niskala dan Aluna. Mereka berdua berjalan beriringan menuju keluar kelas sembari bercanda gurau.

Sampai di parkiran, Niskala melihat sekeliling mencari ke beradaan keluarga nya, tetapi Niskala belum menemukannya . Aluna yang sudah di jemput memilih menemani Niskala terlebih dahulu sampai salah satu keluarganya datang untuk menjemput Niskala.

Tadinya Niskala sudah meminta kepada Aluna untuk pulang lebih dulu, tetapi Aluna memaksakan pendiriannya untuk menemani Niskala dulu. Niskala pasrah saja, kalau pun menentang Aluna dirinya sudah pasti kalah. Karena Aluna sendiri sangat keras kepala.

Kurang lebih hampir 15 menit tapi keluarga Niskala belum juga menjemputnya. Aluna juga sudah menawari untuk mengantar Niskala, tetapi ia menolak. Dua-duanya sama-sama keras kepala.

Tiba-tiba ada seseorang datang dengan motornya menghampiri Niskala dan Aluna. Niskala dan aluna mengerutkan alisnya melihatnya.

Orang itu membuka kaca helm fullfacenya, menyuruh Niskala agar naik ke motornya. Ternyata orang itu adalah orang yang sama ketika Niskala berada di rooftop tadi.

Aluna yang melihat orang itu pun tersenyum jahil sambil menatap Niskala. Niskala berniat menolak, tapi Aluna menyuruhnya naik ke motor orang itu. Daripada menunggu jemputan yang masih lama.

Dengan pasrah, Niskala pun menaiki motor orang itu, lalu dia menjalankan motornya menuju keluar area gerbang sekolah. Aluna menatap kepergian temannya dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu, Aluna menaiki kendaraannya dan pergi untuk pulang.

Sesampai di rumah, Niskala turun dari motor tadi. Lalu, ia berterima kasih pada orang itu. Niskala pun masuk ke dalam rumahnya. Tapi sebelumnya, orang itu memanggil Niskala. Dia bilang bahwa sifat Niskala tidak pernah berubah.

Setelah mengucapkan itu, Orang itu melajukan motornya meninggalkan Niskala. Niskala merasa tersinggung akan ucapan itu, ia berusaha memahami keadaan lalu masuk ke dalam rumahnya.

Pagi harinya, Niskala sudah berada di sekolah. Niskala dan teman-temannya saat ini berada di lapangan olahraga, mereka akan melangsungkan pelajaran olahraga. Tetapi masih menunggu guru mata pelajaran yang masih ada urusan sebentar.

Niskala, Aluna, dan teman-temannya saling bercanda. Tiba-tiba Niskala teringat akan suatu hal yaitu masa lalunya. Hanya sahabat kecilnya dan seseorang yang mengantarnya pulang yang mengetahui.

Ketika guru datang, Niskala tiba-tiba berdiri dan meminta izin kepada gurunya. Bahwa ia tidak bisa mengikuti pelajaran karena kurang enak badan. Gurunya pun mengerti, lalu menyuruh Niskala untuk ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Niskala pergi ke UKS, lalu duduk di salah satu ranjang tidur itu. Mata Niskala memerah, saat ini Niskala benar-benar dihantui perasaan bersalah. Niskala bingung, Niskala ragu akan hal itu.

Tiba-tiba pintu Unit Kesehatan Sekolah (UKS) terbuka, mengalihkan perhatian Niskala menuju pintu yang tadinya tertutup. Ternyata seseorang itu datang sambil membawa makanan dan menaruhnya di nakas. Ia meminta Niskala agar memakannya.

Niskala tersenyum, ia mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Orang itu juga membalas ucapan Niskala dengan senyuman. Lalu ia pergi menuju luar UKS.

Ketika membuka kotak makan yang di berikan tadi, ternyata isi kotaknya mengingatkan Niskala kepada seseorang. Niskala kembali menangis, tangisannya sampai terdengar dari luar ruangan.

Aluna yang tadinya akan melihat kondisi Niskala saat ini. Ketika mendengar suara keras yang ia kenali, Aluna langsung berlari menuju UKS. Ia langsung memeluk Niskala. Aluna mengucapkan kalimat kata kata penenang agar Niskala berhenti menangis.

Saat Niskala sudah tenang, Niskala menceritakan apa yang telah terjadi sampai masa lalunya pun ia ceritakan. Aluna yang mendengar hal itu pun syok.

Setelah Aluna berkata, ia menungggu Niskala tenang dulu. Aluna bersedia jika harus mengantar Niskala ke tempat sahabatnya. Niskala mengusap air matanya lalu mengangguk.

Saat ini, Niskala dan Aluna datang ke tempat istirahat Kanaya. Niskala lupa dimana sahabatnya. Karena ia sudah lama tidak datang ke Tempat ini. Aluna juga membantu Niskala mencari tempat Kanaya.

Aluna menemukannya, lalu Aluna memanggil Niskala dan menunjukan makamnya. Niskala tersenyum, lalu duduk jongkok disusul Aluna di samping makam Kanaya. Niskala menyentuh nisan Kanaya dan ia menceritakan semuanya.

Sesudah itu, keduanya berdiri dan segera pergi dari tempat itu. Sebelum pergi, Niskala baru menyadari jika ada makam baru yang berada di sebelah makam Kanaya. Niskala mendekati makam baru itu dan melihat nisannya.

Membaca nama yang tertulis di nisan tersebut. Membuat Niskala syok, Aluna yang bingung akan hal itu pun mendekati Niskala. Ia ikut membaca nama yang ada di nisan tersebut. ARENO PRADANA, Seseorang yang selama ini bersikap seperti bunglon saat bersama Niskala.

 

ENDING

 

You May Also Like

About the Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.