Mesin Waktu 2

KLPO News – FLASHBACK ON.

Pada hari libur, banyak anak-anak yang sedang bermain di taman halaman komplek. Seperti ketiga anak-anak ini, satu anak laki – laki dan dua anak perempuan. Mereka saling melempar bola lalu menangkapnya.

Saat bola melambung ke arah salah satu anak perempuan itu, tiba-tiba tangkapan bola meleset. Anak itu tidak dapat menangkap bola dengan tepat.

Bola itu menggelinding ke tengah-tengah jalan. Anak perempuan itu kecewa karena tidak dapat menangkap bola.

Anak perempuan lainnya berbicara supaya anak perempuan itu tidak sedih, lalu ia mengajukan diri untuk mengambil bola yang menggelinding dijalanan, tetapi anak laki – laki itu melarang biar anak laki – laki itu saja yang mengambil.

Anak perempuan itu melengkungkan bibirnya ke bawah. Lalu, ketika ia melihat anak laki – laki itu lengah, anak perempuan itu segera berlari menuju jalanan untuk mengambil bola.

Ketika anak laki – laki itu menyadari jika anak perempuan tadi sudah tidak berada di sampingnya, ia melihat ke arah jalanan ternyata anak perempuan itu sudah hampir menyeberangi jalan.

Tiba-tiba ada mobil yang melaju dari arah kanan dengan kecepatan tinggi. Anak laki – laki itu melihat akan adanya mobil berkecepatan tinggi lalu, anak itu berteriak memanggil anak perempuan itu berkali – kali menyuruhnya untuk minggir.

Tetapi, anak itu tetap saja tidak mendengarnya, anak laki – laki itu berlari menuju anak perempuan. Ketika sudah hampir sampai, ternyata ia kalah cepat dengan lajunya mobil tadi. BRAKKK!

Mobil itu lebih dulu menabrak anak perempuan sebelum ia datang menolong anak itu. Warga sekitar yang melihat kejadian berlarian mendekati peristiwa itu, menyuruh pengemudi mobil untuk turun dan sebagian warga lainnya menolong anak perempuan itu.

Lalu, para warga membawa anak perempuan itu menuju rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat terdekat untuk meminta pertolongan pertama.  Anak laki – laki itu melihat kejadian itu didepan matanya sendiri.

Ia melihat anak perempuan satunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sambil melihat anak perempuan, ia menggelengkan kepalanya. Anak perempuan itu juga menatapnya dengan mata merah, anak perempuan itu seperti tengah menahan tangisnya.

Lalu, anak laki – laki itu berjalan pergi untuk mengikuti para warga yang membawa anak perempuan yang tertabrak mobil tadi. Sampainya di pusat kesehatan masyarakat terdekat, anak laki – laki itu melihat orang tuanya dan juga orang tua anak – anak perempuan tadi sudah berada disana juga dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.

Mereka tengah duduk di ruang tunggu sambil menenangkan ibu anak perempuan itu yang sedang menangis.

Ia mendekati ayahnya yang tengah menyandarkan diri ditembok lalu, memegang lengan ayahnya. Ayahnya menoleh ke arah anak laki – laki dengan tatapan pasrah lalu, menggelengkan kepala. Tubuh anak laki – laki itu melemas dan menjatuhkan bahunya.

Anak laki – laki itu menatap pintu ruang temannya yang berada didalam dengan tatapan kosong. Tanpa mereka sadari, anak perempuan satunya mendengarkan pembicaraan anak laki – laki tadi dengan ayahnya. Ia juga melihat bagaimana ekspresi dan jawaban ayah anak laki – laki itu.

Ia merasakan hal yang sama dengan anak  laki – laki dan para orang tua. Anak perempuan itu menangis, ia merasa bersalah akan kejadian tadi. Anak perempuan itu memilih pergi berbalik arah dengan ruangan tadi. Anak laki – laki tadi kembali menatap arah depan dengan tatapan tajam dan nafas yang terlihat memburu.

Hari sudah menjelang sore, anak laki – laki serta para orang tua yang menunggu didepan ruangan sedang berduka saat ini berada ditempat pemakaman anak perempuan yang meninggal. Mereka semua mendoakan yang terbaik pada anak perempuan yang meninggal lalu, satu dari mereka pergi meninggalkan pemakaman tadi.

Juga anak laki – laki tadi pergi meninggalkan pemakaman. Sudah dua hari sejak kejadian itu, saat ini anak laki – laki tidak pernah bertemu dengan anak perempuan yang satunya. Entah saat berada dirumah, halaman, komplek dan juga sekolahan.

Sebenarnya ia juga sangat khawatir ketika anak perempuan itu tidak kelihatan maupun menemui dirinya. Tetapi, ia berpura – pura tidak peduli kemana anak perempuan itu pergi. Ia kecewa dan marah akan tetapi, ia tidak tahu harus menyalahkan siapa akan kejadian itu.

FLASHBACK OFF. 5 tahun berlalu. Kini, seorang lelaki remaja tengah menatap dirinya di hadapan cermin dengan seragam atasan kemeja lengan pendek dengan bawahan celana panjang abu – abu juga dengan rambut yang di biarkan berantakan.

Ia merapikan dasinya yang belum terpasang rapi, lalu mengambil tasnya yang berada di atas meja belajar. Saat semua sudah siap, ia berjalan keluar menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan.  Sambil tersenyum menemui keluarganya yang sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan.

Ibu mengajak dirinya duduk untuk sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah. Tiba – tiba senyumnya pudar saat ada satu kursi yang menjadi titik pusat perhatiannya, kursi itu tengah di duduki oleh seorang gadis mengenakan seragam yang sama dengan dirinya.

Nafsu makannya mendadak hilang saat melihat gadis itu. Ia menolak ajakan ibunya secara halus lalu, ia berpamitan kepada keluarganya untuk berangkat sekolah dulu.

Tetapi, ibunya menahan ia menjawab jika harus sarapan dulu perlu waktu lama ini juga udah hampir terlambat takutnya nanti jalanan juga macet. Ibunya memaklumi hal itu dan memanggil gadis tersebut.

Nama gadis itu adalah Aluna Bstari. Aluna yang merasa dirinya dipanggil oleh seorang ibu kemudian, menyuruh Aluna untuk berangkat bersama anaknya.

Saat Aluna akan menjawab, tiba – tiba seseorang lebih dulu bersuara menolak suruhan ibunya. Aluna tersenyum kecut mendengar tolakan itu. Tetapi, ibunya tetap tidak mendengarkan tolakan anaknya dan tetap menyuruh Aluna berangkat bersama dirinya.

Dengan sangat terpaksa laki laki itu meng-iyakan ibunya. Mereka berdua pergi mengendarai motor milik lelaki itu. Saat di perjalanan, mereka saling diam. Aluna ingin sekali mengajak lelaki itu berbicara namun, Aluna sadar jika lelaki itu pasti kecewa pada dirinya.

Sedangkan, lelaki itu menatap ke arah depan dengan tatapan tajam.

300 meter dari sekolah, lelaki itu berhenti dipinggir jalan. Ia menyuruh Aluna untuk turun. Kemudian lelaki itu kembali menghidupkan motornya, saat akan memasukkan gigi mesin motor tiba – tiba ia mendengar Aluna kembali memanggil.

Gala, Renggala Anandiyandra. Aluna memanggil Gala dengan suara yang kecil tetapi, Gala masih tetap mendengarnya. Tanpa menoleh sedikitpun, Gala pergi menuju sekolah dan meninggalkan Aluna dipinggir jalan sendirian.

Aluna melihat Gala bersama motornya belok ke gerbang sekolah. Aluna melanjutkan jalannya seorang diri. Ketika tiba di sekolah, Aluna sudah tidak melihat keberadaan Gala. Ia bingung harus kemana dan pada siapa Aluna bertanya.

Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk punggungnya sambil mengerutkan dahi. Ia bertanya kenapa Aluna terlihat kebingungan dan juga orang itu tidak pernah melihat Aluna dari kelas IPA maupun IPS. Aluna menjawab jika dirinya melakukan homescholling.

Seseorang itu pun mengangguk lalu, mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. “Niskala”(sambil mengulurkan tangan) . Aluna membalas uluran tangan Niskala lalu, memperkenalkan dirinya juga.

Setelah itu, Niskala mengajukan dirinya untuk mengantar Aluna. Aluna tersenyum lalu mengangguk.

Dari rooftop atas sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku, Gala melihat apa saja yang di lakukan Aluna bersama orang yang baru ia kenal. Seseorang menyentuh pundak Gala dan ia menoleh ternyata orang itu adalah Areno Pradana.

Laki – laki yang wajahnya hampir mirip dengan dirinya. Namun, mereka tidak kembar. Hanya saja memang Areno memiliki wajah yang hampir mirip dengan Gala. Pertama kali bertemu, keduanya juga sangat kaget karena ada orang yang wajahnya mirip.

Lalu, lama – kelamaan mereka berdua sudah terbiasa akan hal itu. Meskipun, orang – orang menganggap mereka kembar dan juga kadang salah memanggil nama.

Areno mengangkat sebelah alisnya, Gala menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Areno di rooftop sendiri. Areno menghela nafas, ia sudah hafal dengan sikap seorang Renggala. Areno lalu turun dari rooftop menyusul Gala.

Waktu istirahat tiba, saat ini Aluna dan Niskala sedang berada di kantin sekolah.

Mereka berdua tengah menikmati makanan yang sudah di pesan, tiba – tiba para siswi yang berada di kantin berteriak heboh saat segerombol siswa dengan penampilan yang berbeda-beda memasuki area kantin. Niskala mendengarnya pun memutar bola matanya malas.

Ia berdiri sambil memegang minuman yang tadi ia pesan lalu, pergi meninggalkan Aluna menuju ke lantai atas(rooftop). Aluna hanya bisa menatap kepergian Niskala.

Aluna tidak tau kenapa Niskala pergi atau mungkin saja Niskala tidak suka keramaian seperti ini.

Satu dari segerombol para siswa tadi melihat kepergian Niskala. Lalu, lelaki itu pergi menyusul Niskala. Aluna mengerutkan dahinya melihat lelaki tadi pergi mengikuti temannya. Aluna hendak mengikuti tapi diurungkannya karena Aluna menghargai privasi Niskala.

Bel berbunyi tanda waktu istirahat sudah selesai. Aluna masuk kedalam kelasnya, ia tidak melihat keberadaan Niskala. Teman kelasnya bilang Niskala ijin pulang dulu karena kurang enak badan.

Aluna menggangguk dan menuju tempat duduknya. Waktu jam pelajaran sudah selesai kini, Gala bersama teman-temannya tengah berada di parkiran sekolah. Mereka duduk di atas motor masing-masing.

Areno melihat Aluna berjalan menuju luar gerbang sekolah. Areno memakai helm lalu, berpamitan kepada teman – temannya dan menghidupkan motornya menuju arah gerbang.

Gala sedari tadi mengamati gerak gerik Areno mengikuti arah pandang Areno, Gala juga mengikuti kemana Areno pergi. Perkiraannya benar Areno mendekati Aluna dan menawari Aluna untuk pulang bersama.

Melihat itu, Gala mendekati keduanya dan menyuruh Aluna untuk naik ke motornya. Areno menoleh pada Gala sambil mengangkat sebelah alis lalu, mengeluarkan seringainya. Gala membalas tatapan Areno dengan sengit dan menyuruh Aluna segera naik.

Mereka berdua pergi meninggalkan Areno sendiri yang tengah menatap mereka dari kejauhan. Areno tahu akan tatapan Gala tadi. Areno sudah menduga jika Gala pasti akan mencegah Aluna untuk pulang bersamanya.

Areno juga tahu jika Gala sebenarnya tidak membenci teman masa kecilnya. Gala sebenarnya peduli terhadap Aluna. Tetapi, Gala bimbang akan kejadian masa lalu yang membuat salah satu teman kecilnya pergi untuk selamanya.

Gala sebenarnya ingin menyalahkan Aluna atas kejadian itu tetapi, jika Gala pikir – pikir kembali kepergian Kanaya saat itu semuannya karena Gala. Sebab ia percaya akan adanya takdir.

 

ENDING

You May Also Like

About the Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.